Banyumas Ngibing 2026 Kembali Digelar, 24 Jam Menari Satukan Tradisi, Modernitas, dan Semangat Kebudayaan

EVENT PURWOKERTO BANYUMAS — Perhelatan budaya akbar Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 dipastikan kembali hadir untuk kedua kalinya pada Sabtu-Minggu, 2–3 Mei 2026, di kawasan Kota Lama Banyumas. Setelah sukses mencuri perhatian publik pada penyelenggaraan sebelumnya, agenda tahun ini disiapkan lebih meriah, lebih beragam, dan semakin menegaskan Banyumas sebagai salah satu pusat geliat seni budaya di Jawa Tengah.

Mengusung tema “Keberagaman jiwa-jiwa yang menyatu dengan bumi”, Banyumas Ngibing 2026 menjadi ruang perjumpaan berbagai ekspresi seni dalam satu harmoni berkelanjutan. Selama 24 jam tanpa henti, masyarakat akan diajak menyaksikan ragam pertunjukan yang memadukan nilai tradisi, kreativitas kontemporer, serta semangat kebersamaan.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat ikut menikmati festival budaya yang diproyeksikan menjadi magnet wisata unggulan Kabupaten Banyumas.

Merawat Tradisi, Menyapa Generasi Baru

Banyumas Ngibing bukan sekadar panggung hiburan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan upaya menghadirkan budaya ke ruang publik agar dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.

Di tengah arus modernisasi yang cepat, festival seperti ini menjadi penting karena menghadirkan tradisi dalam bentuk yang segar dan relevan. Seni pertunjukan tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai bahasa masa kini yang mampu menyatukan banyak kalangan.

Nama “Ngibing” sendiri identik dengan suasana gembira, bergerak bersama, dan menikmati seni secara kolektif. Semangat itulah yang ingin dihidupkan kembali dalam gelaran ini.

Tampil 24 Jam Nonstop

Salah satu daya tarik utama Banyumas Ngibing 2026 adalah konsep menari selama 24 jam nonstop. Selama sehari semalam penuh, panggung akan terus hidup dengan penampilan tari dari berbagai komunitas, sanggar seni, sekolah, hingga penari profesional dari dalam dan luar negeri.

Selain penari 24 jam, panitia juga menyiapkan sejumlah suguhan lain, yakni:

  • Ebeg khas Banyumas
  • Tarian tradisional Nusantara
  • Fashion show budaya
  • Live mural selama 24 jam
  • Musik tradisional dan modern
  • Pameran serta bazar UMKM lokal

Perpaduan itu menjadikan festival ini bukan hanya tontonan, tetapi juga ruang interaksi sosial dan ekonomi masyarakat.

Tiga Penari Tamu Siap Jalani Tantangan 24 Jam


Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia memperkenalkan tiga penari tamu yang akan ikut menjalani tantangan menari tanpa henti selama 24 jam.

Baltazar Oka Reskir, S.Pd.

Datang dari Tangerang, Banten, Baltazar dikenal sebagai seniman sekaligus pendidik yang aktif tampil di berbagai panggung, dari tingkat daerah hingga internasional.

Dedikasinya tidak hanya pada pertunjukan tari, tetapi juga pada pendidikan seni dan pembinaan generasi muda. Kehadirannya di Banyumas Ngibing menjadi simbol bahwa seni dapat tumbuh bersama dunia pendidikan.

Sri Cicik Handayani, S.Sn., M.Sn.

Penari asal Sumenep, Jawa Timur ini dikenal sebagai sosok yang menjadikan tari sebagai bahasa ekspresi sekaligus media menjaga budaya.

Perjalanannya tidak hanya berkutat di atas panggung, tetapi juga meliputi riset, penciptaan karya, serta kolaborasi lintas disiplin. Pengalamannya diharapkan membawa warna baru dalam festival tahun ini.

Dr. Ari Dharminalan Rudenko

Datang dari Amerika Serikat, Ari dikenal sebagai seniman tari internasional yang memadukan seni pertunjukan dengan pendekatan ilmu pengetahuan.

Karyanya menjelajahi banyak panggung dunia, mengangkat relasi tubuh, ruang, dan pengalaman manusia melalui bahasa gerak yang kuat. Kehadirannya menegaskan bahwa Banyumas Ngibing memiliki daya tarik global.

Panggung di Sejumlah Titik Kota Lama

Untuk menampung padatnya agenda, pertunjukan akan tersebar di beberapa titik utama di kawasan Kota Lama Banyumas, di antaranya:

Stage Utama/Pendopo


Menjadi pusat pembukaan resmi, parade penari 24 jam, pertunjukan utama, serta penampilan malam hari.

Stage Mruyung



Diisi berbagai penampilan sanggar seni, tari kreasi, dan kolaborasi komunitas.

Stage Taman Sari



Stage yang terletak di belakang eks-kantor bupati / pendopo di Kota Lama Banyumas ini difokuskan untuk pertunjukan tematik, kolaborasi seni, dan sesi penghargaan. 

Alun-Alun Banyumas



Pada Minggu, 3 Mei 2026, kawasan ini menjadi pusat pertunjukan Ebeg, jantur, lengger, hingga parade massal.

Rundown Lengkap Jadi Panduan Pengunjung

Panitia juga telah merilis rundown lengkap acara yang mencakup opening ceremony, penampilan sanggar dari pagi hingga malam, sesi break, penampilan penari tamu, serta puncak acara di hari kedua.

Pengunjung diimbau mencatat jadwal dan mengatur waktu kunjungan agar tidak melewatkan momen favorit di setiap panggung.

Dengan banyaknya titik pertunjukan, masyarakat dapat memilih menikmati suasana budaya secara bergantian sepanjang hari.

UMKM Lokal Ikut Bergerak

Selain seni pertunjukan, Banyumas Ngibing 2026 juga membuka ruang bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Kehadiran tenant UMKM di sekitar lokasi acara menjadi bagian penting dari festival ini.

Pengunjung dapat menikmati aneka kuliner lokal, kerajinan tangan, produk kreatif, hingga fesyen khas Banyumas.

Dampaknya tidak hanya terasa pada sektor hiburan, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat selama acara berlangsung.

Momentum Banyumas sebagai Kota Budaya

Banyumas Ngibing menunjukkan bahwa daerah memiliki kekuatan besar dalam merawat identitas budaya sekaligus menciptakan event berkualitas. Jika dikelola konsisten, festival ini berpotensi masuk kalender wisata budaya nasional.

Kawasan Kota Lama Banyumas yang memiliki nilai sejarah juga menjadi latar ideal bagi perjumpaan antara masa lalu dan masa depan.

Catat Tanggalnya

Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026
📅 Sabtu–Minggu, 2–3 Mei 2026
📍 Kota Lama Banyumas
🎟️ Gratis & terbuka untuk umum

Bagi pencinta seni, wisatawan, pemburu kuliner, maupun masyarakat umum, Banyumas Ngibing 2026 menjadi perayaan budaya yang sayang dilewatkan.

Salam budaya. Domak tingting josssssss!


 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama