Festival Anak Desa 2026 Ungkap Tema “Nandur Banyu”, Angkat Pesan Merawat Alam dan Kebudayaan Desa


EVENT PURBALINGGA – Teka-teki mengenai tema Festival Anak Desa (FAD) 2026 akhirnya terjawab. Festival yang memasuki penyelenggaraan tahun keenam tersebut mengusung tema “Nandur Banyu”, sebuah ungkapan Jawa yang secara harfiah bermakna “menanam air”.

FAD 2026 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, yakni 30 dan 31 Oktober serta 1 November 2026, berlokasi di Dusun Brobahan, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Pengumuman tema tersebut disampaikan melalui media sosial Festival Anak Desa setelah sebelumnya publik diajak menebak dan bertanya mengenai tema FAD tahun ini.

“Yang dari kemarin masih menebak-nebak dan bertanya apa tema FAD 6 tahun 2026, nih mimin kasih tahu. NANDUR BANYU,” tulis akun Festival Anak Desa dalam pengumuman tema FAD 2026.

Bukan Sekadar Menanam Air

“Nandur Banyu” menjadi gagasan utama yang dibawa dalam penyelenggaraan FAD 2026. Berdasarkan materi pengenalan tema, istilah tersebut tidak hanya dimaknai secara harfiah, tetapi juga dikaitkan dengan upaya merawat alam, kebudayaan, pengetahuan, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat desa.

Dalam filosofi yang diangkat FAD 2026, banyu atau air diposisikan sebagai sumber kehidupan. Menanam air kemudian dimaknai sebagai upaya menjaga sumber air dan lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan hingga masa mendatang.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan pengetahuan dan praktik masyarakat Jawa dalam memperlakukan alam. Air tidak sekadar dipandang sebagai sumber daya, tetapi memiliki hubungan erat dengan kehidupan, pertanian, tradisi, serta keberlangsungan komunitas.

Materi FAD 2026 menjelaskan bahwa “nandur banyu” juga dapat dimaknai sebagai menanam masa depan. Merawat sumber air, lingkungan, dan kebudayaan hari ini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kehidupan generasi berikutnya.

Menghubungkan Alam, Tradisi, dan Kehidupan Desa

FAD 2026 tidak berhenti pada tema lingkungan. “Nandur Banyu” juga dibawa untuk membaca kembali hubungan manusia dengan alam dan kebudayaan lokal.

Salah satu gagasan yang diperkenalkan adalah “memayu hayuning bawana”, sebuah konsep yang menekankan upaya memperindah, menjaga, dan merawat kehidupan serta lingkungan.

Dalam materi festival, “nandur banyu” dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Jawa dalam menjaga sumber air, termasuk praktik menanam pohon di sekitar mata air. Pohon memiliki peran dalam menjaga ketersediaan air dan keberlangsungan lingkungan.

Pesan tersebut kemudian diperluas ke ranah kebudayaan. FAD 2026 memandang bahwa menjaga desa tidak hanya berarti merawat lingkungan secara fisik, tetapi juga mempertahankan pengetahuan, tradisi, pangan lokal, seni, dan hubungan sosial masyarakat.

Dengan demikian, “Nandur Banyu” menjadi benang merah yang mempertemukan persoalan lingkungan, kebudayaan, pengetahuan, dan kehidupan masyarakat desa.

Hadirkan Beragam Program

FAD 2026 juga telah memperkenalkan sejumlah agenda yang akan menjadi bagian dari festival. Rangkaian kegiatan tersebut mencakup berbagai bentuk aktivitas seni, budaya, edukasi, hingga penguatan potensi desa.

Beberapa program yang tercantum dalam materi Festival Anak Desa 2026 antara lain:

  • Abentranpil Karawitan
  • Srawung Kawruh
  • Panggung Pertunjukan
  • Desa Menari
  • Menulis Desa
  • Loka Karya
  • Residensi Seni
  • Exhibition Instalasi Seni
  • Pasar Desa
  • Sinau Ginau
  • Pangan Lokal

Keragaman agenda tersebut menunjukkan bahwa FAD 2026 membawa pendekatan yang tidak hanya berpusat pada pertunjukan, tetapi juga membuka ruang bagi proses belajar, interaksi warga, penciptaan karya, serta pengenalan potensi desa.

Desa sebagai Ruang Belajar dan Berkarya

Melalui sejumlah agenda tersebut, desa ditempatkan bukan sekadar sebagai lokasi pelaksanaan festival. Desa menjadi bagian penting dari proses penciptaan dan pertukaran pengetahuan.

Program Menulis Desa, misalnya, membawa perhatian pada cerita dan pengalaman yang tumbuh dari kehidupan desa. Sementara Residensi Seni serta Exhibition Instalasi Seni memberikan ruang bagi ekspresi dan penciptaan karya yang berkaitan dengan lingkungan maupun kehidupan masyarakat.

Di sisi lain, Pasar Desa dan Pangan Lokal membuka ruang untuk memperkenalkan potensi ekonomi serta kekayaan pangan yang tumbuh dari lingkungan setempat.

Adapun Srawung Kawruh dan Sinau Ginau menjadi bagian dari ruang perjumpaan dan pembelajaran yang mempertemukan berbagai pengetahuan dalam konteks kehidupan desa.

Tiga Hari di Dusun Brobahan

Festival Anak Desa 2026 akan dipusatkan di Dusun Brobahan, Desa Serang, Karangreja, Purbalingga selama tiga hari, 30–31 Oktober dan 1 November 2026.

Dengan mengusung “Nandur Banyu”, FAD 2026 membawa pesan bahwa merawat kehidupan tidak hanya dilakukan melalui tindakan besar, tetapi juga melalui kebiasaan menjaga alam, merawat kebudayaan, berbagi pengetahuan, serta memastikan potensi desa tetap tumbuh dan diwariskan.

Pada akhirnya, “Nandur Banyu” bukan hanya menjadi nama tema festival, tetapi menjadi gagasan tentang apa yang ditanam hari ini untuk kehidupan desa di masa depan.

Festival Anak Desa 2026 — Nandur Banyu.
30, 31 Oktober & 1 November 2026
Dusun Brobahan, Desa Serang, Karangreja, Purbalingga.


 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama