EVENT PURWOKERTO — Arteris Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengangkat isu kebebasan berekspresi melalui pentas produksi bertajuk “Sela Sukma” dalam rangka Dies Natalis Arteris XIV. Pertunjukan bertema “Gema Warna yang Dibungkam” tersebut dijadwalkan berlangsung di Taman Budaya Soetedja, Purwokerto, Banyumas, Kamis (29/10/2026), mulai pukul 18.00 WIB.
Pentas ini mengangkat kegelisahan mengenai ruang berekspresi yang dinilai semakin terbatas. Melalui tema tersebut, penyelenggara mengajak penonton merefleksikan situasi ketika suara, gagasan, dan karya seni menghadapi berbagai bentuk pembatasan.
Isu tersebut menjadi dasar pengembangan Sela Sukma, sebuah pertunjukan yang menempatkan seni sebagai medium untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus menyuarakan kebebasan berkarya. Tema “Gema Warna yang Dibungkam” menggambarkan suara dan ekspresi yang tetap berusaha menemukan ruang di tengah pembatasan.
Seni sebagai Ruang Menyuarakan Kegelisahan
Dalam materi publikasinya, penyelenggara menggambarkan pertunjukan ini sebagai respons terhadap kondisi ketika kebebasan berekspresi terasa semakin sempit. Pertanyaan mengenai suara yang dibungkam dan ruang berkesenian yang dibatasi menjadi bagian dari pesan yang ingin diangkat melalui pementasan.
Melalui pertunjukan tersebut, Arteris mengajak masyarakat melihat seni tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, dan kritik terhadap keadaan sosial.
Pentas produksi ini melibatkan sejumlah anggota dalam berbagai bagian pertunjukan, mulai dari pemeran, penari, pemusik, hingga tim pendukung produksi. Nama-nama yang tercantum dalam poster antara lain Shifa, Kayla, Bima, Norca, Chronel, Sinki, Dawam, Stella, dan Biya.
Terbuka untuk Umum Tanpa Biaya
Pementasan Sela Sukma dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 29 Oktober 2026, di Taman Budaya Soetedja, Purwokerto. Berdasarkan informasi penyelenggara, pintu masuk atau open gate dibuka pukul 18.00–18.45 WIB, sedangkan pertunjukan dimulai setelahnya.
Acara ini tidak memungut biaya masuk atau gratis untuk umum. Penyelenggara menetapkan ketentuan busana atau dress code monokrom, dengan catatan tidak menggunakan kombinasi hitam dan putih.
Penonton juga diminta hadir tepat waktu. Pintu masuk disebut akan ditutup ketika pertunjukan dimulai sehingga pengunjung diharapkan sudah berada di lokasi sebelum tirai dibuka.
Melalui Sela Sukma, Arteris menghadirkan ruang perjumpaan antara seni dan kegelisahan sosial. Pertunjukan ini membawa pesan bahwa ekspresi dan kebebasan berkarya membutuhkan ruang agar suara serta gagasan dapat terus hidup di tengah masyarakat.
