Banyumas – Pemerintah Kabupaten Banyumas mulai mengintensifkan pengembangan budidaya kelapa genjah sebagai langkah strategis untuk memperkuat peran Banyumas Raya sebagai salah satu sentra utama ekspor gula semut dunia. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus keselamatan kerja para penderes nira kelapa di wilayah pedesaan.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, dalam kegiatan peluncuran implementasi proyek develoPPP Coconut Sugar Empowerment bersama PT Integral Mulia Cipta (IMC) yang digelar di Pendopo Si Panji, Purwokerto.
Menurut Bupati, komoditas gula semut memiliki prospek pasar global yang sangat besar. Indonesia saat ini menjadi pemasok utama gula semut dunia, dan sebagian besar produksinya berasal dari wilayah Banyumas Raya yang meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, serta Banjarnegara.
Ia menilai potensi tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal agar Banyumas dapat semakin dikenal sebagai pusat produksi sekaligus ekspor gula kelapa berkualitas.
Produktivitas Meningkat, Risiko Kerja Menurun
Pengembangan kelapa genjah dipandang sebagai solusi penting untuk menjawab persoalan klasik yang dihadapi para penderes, yakni tingginya risiko kecelakaan kerja. Pohon kelapa genjah memiliki tinggi rata-rata hanya sekitar dua hingga tiga meter, jauh lebih rendah dibanding kelapa dalam yang selama ini disadap.
Bupati menyebutkan, kasus penderes jatuh dari pohon masih kerap terjadi dan menimbulkan cedera serius. Dengan tinggi pohon yang lebih rendah, potensi kecelakaan diharapkan dapat ditekan secara signifikan.
Dari sisi produktivitas, kelapa genjah juga memberikan keuntungan. Jika sebelumnya seorang penderes rata-rata hanya mampu menyadap sekitar 25 pohon per hari, dengan varietas genjah jumlah tersebut bisa meningkat hingga empat kali lipat dalam durasi kerja yang sama. Meski volume nira per pohon sedikit lebih rendah, peningkatan jumlah pohon yang disadap dinilai mampu mendongkrak pendapatan penderes secara keseluruhan.
Kualitas gula semut yang dihasilkan pun disebut tetap memenuhi standar pasar ekspor.
Pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas sekitar 625 hektare untuk pengembangan kelapa genjah, dengan kebutuhan bibit diperkirakan mencapai 125 pohon per hektare.
Dukungan Keberlanjutan Industri
Managing Director PT IMC, Mario Ngensowidjaja, menegaskan bahwa pembenahan industri gula kelapa di Banyumas merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan komoditas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Ia menyoroti sejumlah tantangan, mulai dari belum meratanya standar produksi, keterbatasan mekanisasi, hingga berkurangnya jumlah petani akibat faktor usia dan risiko pekerjaan yang tinggi.
Sementara itu, Implementation Manager proyek develoPPP Coconut Sugar GIZ GmbH, Dominik Schwab, menjelaskan bahwa keterlibatan pihak Jerman melalui skema kemitraan publik–swasta ini sejalan dengan upaya memperkuat kerja sama ekonomi sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Program ini mencakup perbaikan teknik budidaya, peralihan bertahap dari kelapa dalam ke kelapa genjah, serta penerapan sistem produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
PT IMC sendiri telah lama mengekspor gula kelapa asal Banyumas ke pasar Eropa, termasuk Jerman, sehingga proyek ini diharapkan semakin memperkuat posisi Banyumas dalam rantai pasok global gula semut.
https://www.javapurnama.com/2026/01/banyumas-aims-to-become-global-export.html

Instagram
X
Facebook
0 comments:
Posting Komentar